Lelaki Pejuang itu Bernama Ayah

by Kelik NW

Dani terpaksa berjalan kaki dari Gombong hingga Bandung. Bukan hanya demi mudik. Ia di PHK dari tempatnya bekerja dan tak tahu akan kerja apa lagi di perantauan. Lebaran tinggal hitungan hari, sementara jangankan THR, pesangon pun tak ia terima. Berbekal Rp. 120 ribu rupiah bersama istri dan kedua anaknya nikreuh sejauh 300 KM.

Dani, puncak gunung es berjuta ayah di negeri ini. Tanggungjawab sebagai seorang kepala keluarga harus dihadapkan pada kenyataan sulitnya mencari sesuap nasi. Tak sedikit ayah yang tetap memakai seragam kerja dan berangkat di pagi hari. Padahal, dia telah seminggu di PHK. Tak ingin membuat sedih sang istri ia tetap berlagak bekerja seperti biasa. Setelah keluar rumah, ia terdiam di pinggir jalan, atau emperan masjid kebingungan tak tahu apa yang harus dilakukan.

Ada juga ayah yang sampai menjual becaknya. Satu-satunya sumber pendapatan rejeki yang telah menemaninya puluhan tahun. Itu ia lakukan karena tidak ingin mengecewakan anaknya memiliki HP. HP untuk sekolah. “Ya, nanti dipikir lagi,” Jawabnya setelah ditanya, lalu bagaimana nanti mencari rejeki bila becaknya dijual.

Ada juga ayah yang membawa kue ulangtahun untuk perayaan kecil sang buah hati. Dibeli dari uang sisa terakhir yang ada di dompetnya. Riang kegembiraan sang anak, menari di kelopak matanya saat ia membeli kue itu. Tak ingin ada tangis kesedihan di hari bahagianya. Ia merelakan tidak makan seharian untuk kebahagian anaknya.

Di sisi lain, ada istri yang tidak mau tahu. Pokoknya dapur harus tetap ngebul. Bahan bakar dana harian harus selalu ada. Sebab makan nggak bisa libur. Kerja nggak kerja, makan mah tetap. Istri menuntut pada suami setiap sore saat kembali ke rumah. Beras habis, listrik belum dibayar, kebutuhan quota untuk anak sekolah dan serentetan proposal kebutuhan domestik disampaikan. Dalam kebingungannya suami tak kunjung meng-acc karena memang nggak ada dana untuk pencairannya. Suami akan berusaha sekuat tenaga untuk bisa melakukan pencairan, sebab bila tidak, perceraian di depan mata.

Tetapi ada istri yang menjadi penyejuk dalam rumah tangga. Ia justru menerima segala kondisi sang suami yang tidak lagi bekerja. Ia akan mengatur dana yang ada. Sembari mencari peluang tambahan pendapatan. Akhirnya pilihan diambil, istri bekerja. Suami dan istri bekerja sudah lazim di perkotaan.

Ada anak yang memahami kondisi sang ayah. Menyesuaikan kebutuhan belajarnya. Menyiasati permasalahan sekolah online. Sing penting, sekolah selesai.

Tidak sedikit anak yang tidak memahami kondisi orangtua. Dalam benaknya, ayah harus memenuhi segala kebutuhan anak. Bagaimanapun caranya. Tak peduli ayah banting tulang, kepala jadi kaki-kaki jadi kepala, kerja dari pagi hingga petang, hingga begadang tengah malam, memenuhi keinginan anak. Anak adalah raja.

Kondisi ayah PHK dialami saya saat krisis moneter 1997. Krisis yang mulai terasa sejak 1996 itu berakibat di PHK nya ayah saya. Padahal, saat itu saya baru saja lulus SMA. Cita-cita ingin menempuh pendidikan tinggi pun kandas. Jangankan untuk membiayai kuliah, membayar kontrakan pun kami mesti ngirit. Akhirnya, dari sedikit uang pesangon ayah berjualan pakaian impor hingga berjualan materai di kantor Jamsostek. Guna membantu ekonomi keluarga, cita-cita kuliah saya tunda. Saya putuskan untuk bekerja. Melamar kerja di saat krismon sangat sulit, di saat freshgraduate dan korban PHK bersaing mencari kerja, saya alami. Mulai dari sales sandal refleksi hingga hampir tertipu perusahaan tak jelas. Bekerja di pabrik vulkanisir ban akhirnya saya berlabuh. Tiga tahun saya lewati sebelum memutuskan untuk kuliah.

Bagi saya, ayah adalah pahlawan. Seorang pekerja keras yang tak pandai menyerah. Bekerja apapun untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Hingga di usia sepuhnya pun enggan ongkang kaki berharap kiriman dari anak-anaknya. Mulai dari dagang mie ayam, daging ayam, bubur ayam hingga berjualan gas 3 kg. Kepribadian ayah adalah teladan bagi saya sebagai seorang ayah. Tanggungjawab terhadap keluarga, pelajaran tak tertulis yang diajarkan pada anak-anaknya.

Bagi para ayah di luar sana. Bersyukurlah bila masih bekerja. Bersyukurlah bila masih memiliki pendapatan. Sayangilah keluarga dengan rejeki yang diperoleh. Ada doa anak dan istri dalam setiap tenaga yang dikeluarkan saat bekerja.

Bersyukurlah, sebab di tempat lain ada jutaan ayah yang kebingungan tak bekerja. Ada jutaan ayah yang hampir putus asa. Hatinya menangis walau senyumnya terpancar saat menggendong anaknya yang baru lahir.

Untuk para ayah pejuang keluarga. Bersyukurlah walau saat ini tidak bekerja. Bersyukur karena masih diberi kesempatan hidup oleh Yang Maha Kuasa. Diberi kesempatan melanjutkan hidup. Menghidupi keluarga. Yakinlah, Tuhan sedang menunjukan pada diri Anda semua, jalan rejeki yang lain. Bukan dari pabrik yang telah memPHK Anda saja rejeki itu. Yakinlah, Tuhan sebaik-baiknya penunjuk dan pembuka pintu rejeki. Apapun yang terjadi, sayangi keluarga. Sebab, doa anak dan istri di rumah saat Anda mencari rejeki di luar sana diijabah Tuhan. Hingga saat Anda pulang ke rumah di petang hari membawa sejumput rejeki halal untuk keluarga.

Bahasa Damai

Oleh: Kelik N Widiyanto

Bayangkeun sadayana jalmi hirup tengtrem.
Bayangkan semua orang mejalani hidup dengan aman.
Bayangke kabeh wong urip tentrem.
Bayangkan semua orang hidup dengan damai.

Bahasa Indonesia, Jawa, Melayu dan Sunda mendadak viral di seantero dunia. Mendiang John Lennon menabur benih perdamaian melalui Bahasa. Imagine all the people living life in peace diterjemahkan ke 100 bahasa sedunia. Empat Bahasa Nusantara mewakilinya. Bahasa Indonesia sebagai Bahasa resmi yang dipergunakan oleh seperempat milyar penduduk Indonesia. Bahasa Melayu dipergunakan penduduk rumpun melayu di Indonesia, Singapura, Malaysia, Brunei, dan Thailand Selatan. Bahasa Jawa dipergunakan penutur yang berasal dari Indonesia. Bahasa Jawa tersebar di beberapa negara seiring migrasi orang jawa ke berbagai penjuru dunia. Mayoritas mereka bermigrasi di era kolonialisasi Belanda seiring kebutuhan tenaga kerja di berbagai koloni Belanda. Penduduk Jawa yang disebar tersebut tetap menggunakan Bahasa Jawa hingga turun temurun hingga kini. Mulai dari Malaysia, Singapura, Brunei, Thailand, Keledonia, hingga Suriname. Sama seperti Bahasa Jawa, Bahasa Sunda dipergunakan di berbagai negara karena penuturnya telah mendunia.

Lennon, dalam akun instagramnya, mempersilahkan seluruh penduduk dunia untuk menggunakan terjemahan lagunya untuk dikemas dalam bentuk yang menarik sebagai kampanye perdamaian. Hastag #imagine50 penanda usia lagu itu. Artinya, telah 50 tahun Lennon menyuarakan perdamaian dan kesetaraan manusia di dunia. Di penghujung usianya memang Lennon kerap turut dalam aksi menentang peperangan. Itu pula yang menyebabkan ia tewas dibunuh.

Lennon bisa saja telah tiada, tetapi semangatnya tetap membara. Seruan hidup bersama dalam indahnya harmoni tetap bergaung dari generasi ke generasi. Sebab, walau hanya bayangan kalau tidak disebut utopi, perdamaian merupakan sebuah cita-cita besar seluruh umat manusia. Tiada lagi pertumpahan darah. Tiada lagi hasrat menguasai manusia lainnya. Tiada lagi ungkapan the others (yang lain). Semuanya satu dalam keragaman.

Penerjemahan lirik lagu imagine dalam 100 bahasa mencoba mendekatkan para penutur selain Bahasa Inggris untuk menyampaikan pesan damai dalam Bahasa mereka. Kedekatan antara Bahasa dan pesan ini menandakan Bahasa adalah alat perjuangan. Bila Subcomandante Marcos mengatakan “Kata adalah Senjata”, maka Lennon meredamnya dengan Bahasa.

Ironinya, setiap tahun ada saja Bahasa di dunia yang punah. Kompas memberitakan, sejak 2011-2019 badan Bahasa Kemendikbud mencatat 11 bahasa daerah di Indonesia kehilangan penuturnya. Tak ada lagi penutur Bahasa-bahasa ibu itu. Padahal Bahasa adalah identitas suatu bangsa. Produk kebudayaan suatu masyarakat. Dari Bahasa kita bisa mengetahui tatanan sosial, pola dan cara berpikir suatu bangsa. Dalam punahnya Bahasa ibu ini pula kita menyadari ada politik Bahasa dalam sistem pendidikan.

Pendidikan seharusnya menjadi alat pelanggengan budaya, kebudayaan dan peradaban telah gagal melakukan misinya. Pendidikan lebih berorientasi mekanik-pragmatis. Memenuhi kebutuhan dan kepentingan kapitalis melanggengkan kerakusannya. Pendidikan yang seharusnya memerdekakan manusia malah menuntun manusia dalam perbudakan modern. Manusia tidak tahu jati dirinya, dan dipaksa masuk dalam jatidiri orang lain yang lebih kuat. Sebagai bukti, Bahasa ibu tidak menjadi pelajaran wajib di sekolah. Kurikulum mengdepankan pendidikan Bahasa asing sebagai Bahasa pergaulan internasional. Bahasa asing lebih tepatnya digunakan untuk kepentingan dagang. Sementara Bahasa ibu dianggap tidak komersil, ilmiah dan ketinggalan zaman. Tidak sedikit orangtua pula yang enggan menuturkan Bahasa ibu di rumah. Karena dianggap tidak modern.

Tulisan ini bukan menafikan Bahasa lain. Sebagai manusia, semua Bahasa itu perlu. Bahasa pergaulan internasional diperlukan, tetapi Bahasa ibu jangan dilupakan. Google translate malah mengapresiasi Bahasa ibu. Ini sebagai bentuk pengakuan akan Bahasa ibu. Mungkin di beberapa tahun ke depan, ada satu alat yang bisa menerjemahkan dua orang yang berbicara dengan Bahasa ibunya masing-masing, tanpa mesti menggunakan penerjemah. Satu orang berbicara dengan Bahasa Jawa, lawan bicaranya memakai Bahasa Korea. Disatukan dengan Bahasa qalbu, Bahasa perdamaian.

Belajar dari Kante

Oleh: Kelik N. Widiyanto

N’Golo Kante, He is short, he is nice, he’s the one, who stopped Leo Messi, but we all know he’s a cheater, N’Golo Kante!”
–Kante Chant–

Di saat pemain Le Blues lainnya menari gembira di ruang ganti, Kante menyantap pizza yang tersaji. Sikap dinginnya ini menegaskan dia seorang pemain dengan kemuliaan hati. Kemenangan atas Yellow Submarine sederhana saja ia sikapi. Tanpa menari apalagi menyombongkan diri. Baginya, menang atau kalah itu takdir dari Yang Maha Suci.

Dalam setiap pertandingan, menang atau kalah itu pasti. Tak jarang berhasil seri. Sering menang jadi juara, keseringan kalah jadi juru kunci. Menang tak perlu jumawa, kalah tak perlu berkecil hati. Tugas pemain memaksimalkan ikhtiar hingga waktu berakhir. Detik-detik terakhir pun bisa membalikan situasi. Dalam kondisi tertinggal, dengan ikhtiar maksimal, bisa membalikan posisi.

Dalam sepak bola tidak ada yang pasti. Klub dengan bertabur bintang, bukan suatu garansi. Klub semenjana punya kesempatan yang sama meraih tropi. Sebut saja Leicester City. Kerja keras dan kekompakan tim menjadi kunci. Berbalik dengan tim bertabur bintang yang mengedepankan ego diri. Merasa diri paling terbaik enggan tersaingi. Menonjolkan skill mempertontonkan ia seorang ahli. Ia bukanlah pemain, tetapi lebih seorang selebriti.

Respect, digemakan untuk saling menghargai. Walaupun saling berhadapan bukan untuk saling menyakiti. Semua sadar, ia hidup dari sepakbola ini. Tak salah bila pemain unjuk gigi, tanpa perlu mematahkan kaki. Mematahkan kaki berarti memutus rejeki. Gara-gara ini, Marco van Basten mesti pensiun dini.

Puyol lebih dulu memberikan contoh tentang menghargai. Mengingatkan pemain depan yang berlebihan selebrasi. Merayakan gol cukup dengan mengacungkan satu jari. Bersyukur kepada illahi rabbi. Tak perlu mengejek lawan sambil menari. Selain tak tahu diri, perbuatan itu merendahkan diri sendiri.

Selain pemain, bobotoh pun perlu diajari. Jangan sampai, tim menang dipuji, tim kalah dicaci maki. Itu bukan fans sejati. Pendukung setia itu, tim kalah disemangati, tim menang disyukuri. Apalagi dalam gelaran kompetisi. Pertandingan panjang akan dijalani. Menang hari ini, esok belum pasti. Dukunglah tim layaknya memiliki. Kala menang atau kalah tak jemu bernyanyi. Percayalah, itu menaikan mental diri. Pemain akan percaya diri sebab bobotoh selalu menemani.

Bobotoh itu energi. Persib menjadi bukti. Juara di paruh masa kompetisi. Namun hingga pertandingan terakhir, gagal mengangkat tropi. Gara-gara bobotoh tak boleh menemani. Persib seperti kehilangan taji. Tim dan bobotoh bagai satu hati. Satu sama lain saling membutuhkan dan melengkapi. Akibat kekhilafan, merugikan diri sendiri. Ini menjadi pelajaran penting agar tidak terjadi lagi.

Tidak ada kemenangan hakiki selain berhasil melawan nafsu diri. Semuanya semu, kemenangan di berbagai pertandingan di dunia ini. Pertandingan sesungguhnya di setiap detik di sepanjang hari. Sebab nafsu menggoda kapan saja bisa terjadi. Untuk menghadapinya, selalu persiapkan diri. Iman jadi perisai. Senantiasa mendekatkan diri pada Illahi.

Semua manusia tak lepas dari masa lalai. Itu wajar terjadi. Tapi bukan untuk diulangi. Sesali dan perbaiki diri. Masuki pintu taubat, Allah akan senantisa mengampuni. AmpunanNya lebih luas dari alam semesta ini. Allah telah mengetahui, manusia akan memohon pengampunan diri. Hanya, tinggal manusianya kini. Akankah kesalahan diulangi. Atau sebelum bertindak bercermin diri.

Lima ratus kata, challenge hari ini. Tak kan selesai tanpa Kante dan secangkir kopi.

Cinta, Sepakbola dan Politik

Oleh Kelik N. Widiyanto

“Cintailah orang yang engkau cintai seperlunya, karena bisa saja suatu hari dia akan menjadi musuhmu, dan bencilah orang yang kamu benci seperlunya, karena bisa jadi suatu hari kelak dia akan menjadi orang yang engkau cintai.” (HR: Al-Tirmidzi)

Cinta dunia berakhir neraka, cinta akhirat berbalas surga. Cinta dunia penuh intrik, politik, dan pragmatik. Cinta akhirat penuh ketulusan, pengorbanan, dan kesetiaan. Tiada cinta yang paling indah selain cinta kepada sang pemilik ruang dan waktu. Karena kita hidup di dunia, wajar bila cinta dunia. Tapi cintailah dunia secukupnya saja. Cintailah dunia dengan tujuan akhirat. Jadikan cinta dunia jalan menuju cinta sejati.

Pesan Nabi itu benar nyatanya. Saat di Real Madrid, Sergio Ramos momok menakutkan bagi pemain Barcelona. Tanpa pikir panjang, bersama Pepe, kerap menjatuhkan pemain Barcelona, terutama Lionel Messi. Dalam satu pertandingan el clasico, saat Messi menggiring bola dari tengah lapangan, Ramos menyapu tulang kering sekeras-kerasnya hingga sang Mesia terpelanting. Hampir dalam setiap el clasico Messi dan Ramos terlibat pertarungan sengit.

Keduanya membela klub masing-masing. Klub yang membayarnya. Totalitas dalam bermain diberikan sebagai bukti mereka layak dibayar mahal. Kalau perlu patah kaki di lapangan akan mereka lakukan. Kecintaan mereka kepada klub lebih bersifat pragmatis. Tetapi, mereka menjadikan lawan sebagai musuh yang tak terampuni.

Siapa nyana, lawan menjadi kawan. Setelah Madrid tidak membutuhkan tenaga Ramos lagi, setelah Barcelona tak mampu membayar Messi lagi, dua seteru ini menjadi kawan dalam perjuangan. Dari yang awalnya saling membenci kini saling mencinta. Di klub barunya saling bahu membahu meraih pretasi tertinggi bersama. Tiada lagi persaingan, yang ada kolaborasi.

Dekade lalu malah Figo membuat gebrakan tak kalah mencengangkan. Beralih ke tim rival. Saat di Barcelona dipuja The Cules, tapi Figo mendapat cemooh saat membela Los Blancos. Perpindahan ini karena kepentingan sesaat. Gaji. Apa lagi selain yang dicari dari pemain professional selain uang. Dengan masa kerja yang singkat. Pensiun diusia menjelang 40. Masa bagi seorang aparat naik menjadi kepala dinas, seorang pemain sepakbola malah pensiun.

Dalam sepakbola pula kita mengalami perpindahan pemain antarklub antarpelatih (AKAP) hal yang biasa. Tak perlu ditanggapi serius. Seperti perpindahan seorang politisi dari satu partai ke partai lain. Membalikan dukungan politik dari berlawanan menjadi kawan sejalan demi posisi dan jabatan. Memang terasa mirip. Keduanya pragmatis. Dalam politik dan sepakbola kita semakin yakin, tiada kawan dan lawan yang abadi, yang ada hanya kepentingan.

Rumus utama itu, tiada kawan dan lawan yang abadi, yang ada hanya kepentingan, menampakan betapa kejamnya politik. Dalam politik lebih tega. Bukan hanya bertarung melawan pihak yang bersebrangan, bahkan kawan seperjuangan pun dijegalnya. Semuanya untuk mencapai tujuan politik pribadi. Bagi sebagian politikus, inilah seni berpolitik. Bagi kaum awam, inilah pengkhianatan. Dalam politik dan sepakbola, cinta itu memiliki maknanya sendiri.

Isolasi di Hari Suci

Oleh: Kelik N Widiyanto

Di saat banyak orang kesulitan untuk mudik, Ilam Maolani diberikan kemudahan untuk pulang kampung. Mudik lokal dari Kota Tasikmalaya ke Desa Rawa Singaparna diperbolehkan pemerintah setempat. Tapi untung tak bisa diraih, malang tak dapat ditolak. Dua hari menjelang idul fitri, ia terpaksa menjalani isolasi.

Kesibukan berdakwah di sepuluh hari terakhir di Bulan Ramadlan, memaksanya bersilaturahmi dengan banyak pihak. Sebagai ulama, bersilaturahmi dan menuntun umat yang kebingungan sudah menjadi panggilan jiwa. Mulai dari mahasiswa hingga ibu-ibu majelis taklim. Mulai dari aula kampus hingga masjid di kampung. Tak kenal siang hingga tengah malam. Luring juga daring.

Berawal dari demam yang ia anggap biasa, akhirnya badan menyerah pula. Setelah berobat ke klinik milik mantan walikota Tasikmalaya, guru PAI terbaik tingkat Jawa Barat pada 2019 lalu itu disarankan dokter untuk istirahat total. Tapi panggilan umat dan aktivitas sosial lainnya tak menyurutkan semangat berdakwahnya. Merasa sudah sehat dan dibekali obat dari klinik ia melanjutkan berdakwah. Namun, beberapa hari kemudian, kondisinya tak kunjung membaik. Ia berinisiatif memeriksakan kondisi kesehatannya ke IGD Rumah Sakit TMC Tasikmalaya. Hasilnya, positif covid.

Dokter menyarakan isolasi di rumah saja, karena kondisi darah masih bagus, dan imun cukup bagus. Dua hari saja Guru PAI SMP ini kuat isolasi di rumah. Setelah memastikan ada kamar kosong di RSUD Dokter Soekardjo Tasikmalaya, akhirnya ia menjalani isolasi di rumah sakit. Dua hari menjelang idul fitri.

Janji pada sang ibu akan mudik pada malam takbiran pun buyar. Janji pada umat untuk menjadi imam dan khatib sholat ied di kampung gagal. Janji bersilaturahim dengan sanak kerabat tak dapat terpenuhi. Di kamar Tulip menjalani isolasi dalam kesendirian. Sayup gema takbir di luar rumah sakit menambah haru suasana.

Terlebih dalam tujuh hari pertama kondisi tubuh tidak kunjung membaik. Batuk terus menerus terasa hingga ulu hati. Saat ada pasien lain yang ditempatkan dalam satu kamar, ia minta agar dipindah kamar karena takut batuknya mengganggu. Magrib ia pindah dari kamar 204 ke 207. Subuh terdengar kabar pasien yang baru masuk kemarin, meninggal dunia.

Secercah harapan saat perawat menyampaikan bila Ilam kondisinya akan membaik, karena ia tidak memiliki penyakit penyerta dan kondisi imunnya sangat baik. Obat yang selama seminggu diminum secara oral, akhirnya disalurkan bersama cairan infus. Batuk Ilam membaik, dan bisa tidur nyenyak.

Tiga hari setelah lebaran, saat kondisi fisik mulai membaik, Ilam mendapat kabar duka, ayah mertua meninggal dunia. Ayah mertua meninggal di rumah sakit yang sama. Tetapi karena Ilam sedang menjalani isolasi ia tak bisa menemui ayah mertua untuk yang terakhir kali. Ilam sangat dekat dengan sang ayah mertua. Bahkan Ilam sudah bertekad untuk mengurus jenazah sang ayah bila kelak meninggal, mulai dari memandikan hingga menguburkan. Satu lagi janji tak terpenuhi. Ia hanya bisa melihat prosesi pengurusan jenazah dari vidio call sang istri dan adik iparnya.

Di hari ketujuh ia membuat video yang ditujukan kepada kawan, sahabat, kerabat dan keluarga. Mengabarkan bagaimana kondisi terkini. Dalam hati, umur tak ada yang tahu. Pasien yang kemarin baru masuk saja tak tertolong, tak menutup kemungkinan ia akan menyusul. Ia mesti siap bila dihadapkan pada kondisi terburuk.

Berita tentang covid yang sangat dekat dengan pintu kematian. Ditambah kabar duka yang bertubi-tubi, menyadarkan Ilam untuk semakin dekat dengan Tuhan. Guru PAI ini tak henti membaca Quran yang ia bekal dari rumah. Motivasi dan nasihat dari sang istri yang disampaikan melalui telepon dan vidio call untuk pasrah dan ikhlas menghadapi kondisi menambah semangat untuk bisa sembuh. Sang istri bukan sekali ini saja setia menemani Ilam. Beberapa tahun yang lalu, Ilam mesti menghabiskan waktu sebulan di RS Hasan Sadikin. Istri setia menemani. Kesetiaan sang istri dan senyum buah hati satu-satunya yang mulai beranjak dewasa adalah “imun” tersendiri.

“Kang,” pesannya pada penulis.
Covid itu ada. Saya yakin ia ada. Tetangga saya menjadi bukti. Saya sendiri mengalami. Tak ada yang kebal terhadapnya. Saat kita merasa jago dan kebal nggak akan kena covid, menyesal seumur hidup bila terkena.
“Akang harus yakin, covid itu ada. Maka akang mesti patuh pada prokes,” pesan keduanya.
Jangan lepas memakai masker. Selalu mencuci tangan pakai sabun dan air mengalir. Disiplin menjaga jarak. Sebisa mungkin menjauhi kerumunan dan membatasi mobilisasi dan interaksi.
“Dan kang, ingat selalu pada Allah Swt,” pesan pamungkasnya.

Hubungi Kami